Angkot oh Angkot

Setiap hari ketika akan berangkat ke kampus, aku menggunakan jasa angkutan umum sebanyak 2 tipe kendaraan. yang pertama medium vehichels cars atau yang biasa daihatsu (begitu di kota Semarang disebut) serta sejenis bus. bus aku gunakan untuk menempuh perjalanan dari rumah hingga gerbang kampus, sedangkan daihatsu aku gunakan dari gerbang kampus menuju gedung jurusan dimana aku belajar. mulai dari berangkat hingga kembali pulang di siang atau sore menjelang petang biasanya banyak sekali fenomena unik yang ditemui.mulai dari perilaku penumpang hingga pemandangan tak biasa yang acapkali tak terlewatkan oleh mata.

Siang itu, entah tanggal berapa tetapi yang pasti kala itu di tahun 2011,aku sedang menikmati masa-masa menjadi seorang mahasiswa baru dan masa orientasi. karena masa orientasi aku menggunakan rok panjang dalam keseharian. aku sangat ingat, aku mengeluh dalam benak sepanjang hari karena cuaca kota Semarang yang sangat panas , harus rela menunggu angkutan kota yang lewat untuk kembali pulang. Dasar pikiran sudah capek ditambah hati yang malas untuk melawan matahari, ketika bus datang aku segera saja ingin lekas naik dengan terburu-buru. Alhasil rok panjang yang aku kenakan sobek..aduh,,malu memang, tapi aku cuek dan berusaha tetap stay cool. sampai dirumah, ibu menjahit rokku sehingga bisa dikenakan lagi untuk hari selanjutnya. bukan hanya sekali kejadian rokku sobek ketika naik angkot, tapi berkali-kali. karena kesal aku akhirnya memutuskan untuk berganti celana panjang ketika akan pulang, dan terbukti efektif.hehe..

Angkot sudah menjadi keseharian wajib untuk menjalani aktivitas, tetapi masih saja aku selalu mengeluh ketika harus menggunakan angkot ketika bepergian. sebenarnya bukan karena fasilitas angkot yang kurang, bagiku yang terpenting adalah sampai di tempat tujuan. aku merasa tidak bersyukur dan selalu saja membanding-bandingkan andai saja memiliki kendaraan pribadi, pasti tidak selalu harus beradu dengan cuaca, berdesak-desakan, atau berdiri terlalu lama menunggu datangnya angkot, sampai di tempat tujuanpun bisa lebih cepat, serta menghemat pengeluaran sehari-hari karena bahan bakar 10rb untuk harga saat ini bisa digunakan 2-4 hari. sedangkan untuk naik angkot 1-2 hari saja pulang pergi. seringkali aku merasa iri dengan mereka yang dibelikan kendaraan pribadi oleh orangtuanya, sedangkan aku?harus terus berjibaku dengan jalanan. tak jarang pula, mukaku masam karena terlalu sering menggerutu di dalam benak. tetapi, apa yang bisa aku lakukan?hanya bisa pasrah dan bersyukur. pernah suatu hari kuutarakan hal itu kepada keluarga, tetapi jawaban mereka juga tidak memuaskan, lagi-lagi aku harus tetap menggunakan angkot untuk akomodasi.ketika semua teman-temanku pulang menggunakan kendaraan aku hanya bisa menatapnya saja dengan perasaan serba salah, entah kesal karena nasib ataupun malah bersyukur.

Mahasiswa mengerjakan tugas hingga larut malam? itupun juga aku alamin. Nah, ketika menghadapi situasi seperti ini aku sungguh sangat bersyukur karena memiliki teman-teman yang amat peduli terhadapku. aku seringkali diantar pulang oleh mereka tanpa pamrih. kadang juga teman-teman bergiliran mengantar pulang atau meminjamkan helm untukku, karena sering lupa mengembalikan helm tak jarang pada suatu momen dirumah berjejer helm pinjaman.hahha..Dari hal tersebut aku sangat berterima kasih pada mereka, memiliki teman yang baik dan ramah. sebagai imbalan terhadap kebaikan mereka, kadang aku membagi-bagikan makanan yang aku bawa dari rumah. mereka senang, akupun juga tersenyum dengan lebar. atau ketika sedang menunggu angkot dan bertemu dengan teman, lalu mereka berhenti untuk menumpangi kita. ada perasaan lega sekali karena selain mengirit uang saku juga mengurangi rasa lelah yang harus ditempuh selama perjalanan menggunakan angkot.

Beranjak memasuki semester 3, ketika itu aku pernah pulang dalam keadaan benar-benar capek karena sebelumnya mengikuti praktikum seharian. sore hari sekitar pukul 4 aku pulang menggunakan daihatsu kuning yang aku tumpangi dari depan kampus jurusan. eh tak disangka, sesampai di depan indomaret bundaran kampus, ada ibu-ibu naik angkot..dia cerewet sekali awalnya dia bercerita akan mengambil service motor di luar gerbang kampus, dia juga pemilik kos-kosan dibelakang indomaret lalu menanya-nanyaiku macam-macam mulai dari jurusan, rumahnya dimana, menceritakan anaknya yang sedang skripsi, hingga pertanyaan terakhir mngapa aku tak mnggunakan kendaraan saja mengingat rumahku lumayan jauh. aku benar-benar pusing dibuatnya, sudah tidak bisa brpikir fokus untuk memperhatikan ibu-ibu itu berbicara, waktu itu aku jawab sekenanya. sesampai di gerbang kampus kami sama-sama turun, dan aku sungguh kaget ibu-ibu tersebut memberikan uang dua ribu untuk membayariku naik angkot tersebut (sesuai tarif yang berlaku). wahhh,,aku merasa benar-benar ada angin segar meskipun hanya dua ribu, tetapi aku sangat berterima kasih kepada ibu-ibu cerewet itu karena sangat bermurah hati. mungkin ibu-ibu cerewet itu merasa kasihan dengan tampangku yang lusuh.hahhaa..

Hingga saat ini, aku malah sangat menikmati momen naik angkot dan berjalan kaki. ketika berpanas-panas ria menunggu datangnya angkot, akan sejuk dengan sendirinya setelah masuk ke dalam bis dan terhempas udara AC yang dingin.
perasaan juga sama seperti itu. menjumpai banyak sekali tipe manusia dan berbincang-bincang dengan banyak orang, menemui pengamen yang selalu sama di dekat halte bus, menikmati musik yang diperdendangkan di bus (mulai dari dangdut hingga pernah ada bus yang menyetel lagu barat terupdate), merasakan aroma khas dari bus, mengamati fenomena kemanusiaan karena tak jarang banyak orang terutama laki-laki mengalah untuk memberikan tempat duduk mereka kepada lansia dan perempuan. akupun mendapat bonus untuk selalu menikmati indahnya matahari sore ketika pulang, membakar kalori (karena setelah turun dari bus aku harus berjalan kaki hingga sampai rumah) menemui anak-anak kecil bermain di sekitar rumah, pemandangan yang sangat menyenangkan :)..Banyak hal yang menginspirasi aku dari kegiatan menaiki angkot sehari-hari, menjadikan aku bersyukur karena awalnya memang terjadi banyak pergolakan dan iri hati ketika melihat orang lain memiliki kendaraan sendiri. Menjadikan aku pribadi yang lebih sabar, sederhana, bersyukur, dan terpacu agar memiliki kendaraan yang aku beli dengan uang hasil kerja keras sendiri. Saat ini, itu yang bisa aku lakukan dan syukuri. Transportasi juga menjadi bidang baru yang asik untuk dipelajari, mengingat jurusan teknik yang aku ambil juga menyangkut dengan hal ini. Semoga infrastruktur angkutan umum lebih ditingkatkan, sehingga mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang memicu kemacetan.apapun amanah yang akan diberikan Tuhan kepadaku, semoga aku siap menjalaninya dengan ketulusan.


Bus Trans Semarang Koridor 2 yang sering aku tumpangi


Suasana di Dalam Bus ketika siang hari, banyak sekali ditemukan tipe manusia di sini


Tarif Bus yang berlaku


    Hayuning Santa Asisi

Komentar

Postingan Populer